Jumat, 23 September 2011

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (Manusia)


 




 


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya berkat dan petolongan-Nya, kami dapat menyusun makalah ini.
              
Kami berharap makalah dapat menambah pengetahuan mahasiswa-mahasiswa Universitas Negeri  Manado, adapun makalah kami ini berjudul “Manusia.”


            Kelompok kami menyadari makalah ini masih terdapat kekurangan, kami sangat mengharapkann kritik dan saran  yang membangun dari semua pihak untuk penyempurnaan makalah ini. Terima kasih.



                                                                                                            Hormat Kami
                                                                                                                Penulis















DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I    PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
1.2  Tujuan penulisan
1.3  Manfaat Penulisan
BAB II   PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Manusia
2.2 Manusia Menurut Gambar dan Rupa Allah
2.3 Manusia Adalah Makhluk Yang Terdiri Dari Tubuh dan Jiwa
2.4 Manusia Diciptakan Sebagai Laki-laki dan Perempuan
2.5 Manusia Sebagai Mandataris Allah

BAB III  PENUTUP
Daftar Pustaka










BAB I
PENDAHULUAN


1.1            Latar Belakang
Menurut kesaksian Alkitab, manusia diciptakan oleh Allah serupa dan segambar dengan Dia. Manusia berdosa dan membutuhkan pemulihan melalui pertobatan. Tuhan Allah sangat peduli dengan kehidupan manusia serta seluruh ciptaanNya. Pada hakikatnya manusia diciptakan sebagai makhluk religious, rasional dan social.

1.2            Tujuan Penulisan
·         Memenuhi tugas dari dosen mata kuliah Pendidikan Agama Kristen.

1.3            Manfaat Penulisan
·         Agar materi ini bisa dipahami/ dimengerti oleh Mahasiswa.
















BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Manusia
            Menurut Plato manusia adalah ibarat teks yang sulit maknanya harus diuraikan oleh filsafat. Tetapi dalam pengalaman kita sebagai pribadi, teks itu ditulis dengan huruf yang terlampau kecil sehingga tak terbaca. Sedangkan menurut Socrates manusia adalah makhluk yang bila di sodori pertanyaan yang rasional dapat menjawab secara rasional pula. Lain pula menurut Ernst Cassirer, hakikat manusia tak ditentukan oleh tambahan-tambahan dari luar ia semata-mata tergantung pada penilaian diri, manusia dimaklumkan sebagai makhluk yang terus-menerus mencari dirinya makhluk yang setiap saat harus menguji dan mengkaji secara cermat kondisi-kondisi eksistensi. Kita akan memperoleh gambaran tentang sifat manusia hanya bila kita bergaul dengan manusia. Sedangkan menurut Charles Darwin: “Simpanse dan gorilla adalah kerabat dekat dari manusia”. Manusia adalah hasil revolusi kera. Menurut Johnson Raley Wedberg: manusia adalah spesies primate yang maju dan modern. Sedangkan, menurut ajaran agama Hindu: kehidupan bermula dari Brahmana timbul angkasa, dari angkasa ke udara, dari udara kea pi kemudian ke air, dari air ke tanah kemudian tanah itu menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang kemudian akan menghasilkan makanan dan pada makanan itu terdapat biji dan biji itu menghasilkan manusia. Sedangkan menurut paham Totemisme: manusia berasal dari suatu jenis binatang. Menurut Origenes, manusia dijadikan sesuai dengan peta/rupa dan gambar Allah itu memiliki tabiat yang berakal, dengan maksud agar manusia telaten menjadi serupa dengan Allah. Irenius berpendapat lain, menurutnya manusia sejak semula telah menurut rupa dan gambar Allah, yang berarti sejak semula ia adalah makhluk yang berakal dan serupa dengan Allah. Marthin Luther, bahwa manusia memiliki pengetahuan akan Allah, kebenaran dan kekudusan, yang setelah manusia jatuh ke dalam dosa, hilang sama sekali. Manusia pada hakekatnya segambar Allah. Yohanes Calvin berpendapat, bahwa yang dimaksud “gambar” adalah hakekat manusia yang tidak dapat berubah, sedangkan yang dimaksud dengan rupa adalah sifat manusia yang dapat berubah, maksudnya bahwa manusia memiliki akal, kehendak dan kepribadian.
            Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan kesaksian Alkitab yang paling awal tentang manusia merupakan ciptaan Tuhan. Manusia tidak terjadi dengan sendirinya melalui proses evolusi. Manusia diciptakan berbeda dari makhluk hidup lainnya termasuk kera dan karenanya bukan keturunan kera. Sebagai ciptaan Tuhan maka Tuhan adalah sumber hidup Dan Tuhan berdaulat atas kehidupan dan tujuan hidup manusia. Sebagai makhluk, manusia tak akan pernah sama dengan penciptanya. Betapa hebatnya potensi rasional manusia, ia tetap makhluk denagn segala keterbatasannya.
            Manusia sebagai makhluk imago dei  (serupa gambar Allah) dan religius. Konsep  imago dei  ini sudah sangat tua dalam tradisi agama Yahudi dan sudah menjadi pokok perdebatan yang hangat dalam tradisi agama Kristen. Ada yang mengartikan sebagai kesamaan atau kemiripan dengan Allah dalam hal dimensi spiritualnya, atau potensi rasional. Hal ini biasa dikaitkan dengan mandate dari Tuhan untuk menguasai dan memerintah alam semesta. Keseragaman manusia dengan Allah menunjuk pada relasi manusia dengan Tuhan. Jadi keseragaman manusia dengan Tuhan berarti manusia diciptakan dengan potensi untuk relasi dengan Tuhan melalui satu cara lain. Potensi tentu saja bias direlasikan tetapi bias juga tidak.
            Manusia sebagai makhluk social menunjuk kepada kecenderungan manusia yang tetap untuk berorientasi terhadap sesama manusia. Orientasi yang tetap ini mengambil bentuk dalam terciptanya berbagai pranata social mulai dari yang paling sederhana seperti keluarga sampai kepada yang sangat kompleks seperti Negara dan perusahaan. Realita itu dapat membuktikan bahwa sesungguhnya manusia mempunyai kebutuhan social atau kebutuhan akan relasi-relasi social. Lebih jauh lagi manusia juga menciptakan norma-norma social yang mengatur perilaku dalam kaitannya dengan relasi-relasi social seperti kepercayaan, nilai-nilai dan sebagainya. Memang selalu ada pilihan antara kepentingan individu atau social tetapi tetap saja tidak bias menggantikan kebutuhan manusia pada sesamanya. Manusia sebagai makhluk rasional dan berbudaya. Bahwa manusia diciptakan lain dari makhluk hidup lain sudah jelas antara lain karena manusia mempunyai potensi rasional. Potensi memungkinkan manusia untuk dapat mengembangkan kebudayaan dalam arti luas. Fakta ini menjadi sangatjelas dalam pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni. Potensi inilah yang membawa manusia pada kemajuan IPTEK dan seni sampai pada tingkat yang canggih sekarang ini. Dengan potensi ini manusia yang mempunyai orientasi tetap dengan alam semesta ini. Inilah yang dimaksud dengan tugas mandataris artinya wakil Allah di dunia dalam rangka memerintah dan memelihara alam ciptaan Tuhan.
            Manusia sebagai makhluk etis yaitu manusia mempunyai potensi dan kapasitas untuk mempertanyakan dan membedakan apa yang baik dan sebaliknya. Manusia tidak saja mampu membedakan mana yang baik dari yang tak baik secara etis, namun manusia juga mempunyai kebebasan untuk memilih sekaligus mempertanggungjawabkan pilihannya.
            Hakekat manusia yang lain adalah bahwa manusia adalah orang berdosa. Semua hakekat yang sudah disebutkan memperlihatkan dimensi yang luar biasa dari keluhuranmanusia. Kejadian pasal 3, sudah menjelaskan tentang kejatuhan manusia dalam dosa. Disini dosa tidak hanya merupakan pelanggaran moral atau aturan-aturan melainkan pada dasarnya merupakan sikap yang salah terhadap Allah atau bahkan dapat dikatakan pemberontakan manusia terhadap Allah. Artinya, manusia menolak kedaulatan Allah atas hidupnya dan pengrah tujuan hidupnya. Jadi dapat dikatakan bahwa dosa adalah pelanggaran terhadap kehendak Allah dan mempunyai konsekuensi-konsekuensi moral dan etis dalam berbagai dimensi hubungan manusia; dengan sesame; dengan alam ciptaan Tuhan, dan bahkan dengan diri sendiri.
            Ajaran tentang dosa ini mempunyai tempat yang sentral dalam Alkitab dan juga dalam tradisi Kristen. Itulah sebabnya Yesus Kristus dating ke dalam dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa. Ajaran ini bertendensi seolah-olah dosa selalu diartikan secara individu. Namun ada lagi jenis dosa yang lebih parah konsekuensinya yakni dosa social atau structural. Pengertian ini dikembangkan oleh para teolog pembebasan. Ternyata pendritaan dan kemiskinan manusia banyak diakibatkan oleh dosa social, misalnya oleh struktur social, politik dan ekonomi yang tidak adil.
            Manusia adalah keturunan dewa sebagai hasil dari perkawinan suci antara para dewata. Dalam kehidupan agama suku, langit dipandang sebagai alam atas, langit melambangkan asas laki-laki, segala sesuatu yang ada dibalik langit merupakan hal yang misteri. Sedangkan bumi dianggap sebagai alam bawah, melambangkan asas perempuan, asa perempuan dipandang sebagai alam bawahan yang ada di bawah bumi. Manusia adalah hasil perkawinan dari alam atas dan dari alam bawah. Alam tempat tinggal manusia disebut alam tengah. Peperangan suci antara dewa-dewa, dalam peperangan ini alam atas dan bawah berusaha untuk saling membinasakan. Akan tetapi dari pembinasan itulah lahirlah manusia dari bumi, sehingga kesatuan kedua tokoh tadi dipulihkan atau diperbaharui dalam ciptaan yang baru.
            Manusia adalah salah satu bagian dari alam. Segala sesuatu adalah subjek, manusia adalah satu subjek, manusia tidak ada bedanya dengan alam sekitarnya. Manusia adalah salah satu bagian dari alam sehingga agama-agama suku mempercayai bahwa hidup manusia tergantung pada kekuatan-kekuatan yang ada di sekitarnya. Alam sekitar sangat mempengaruhi kehidupan manusia, selalu untuk menyenangkan alam sekitarnya dengan upacara-upacara keagamaan. Manusia menguasai alam, walaupun manusia sangat mempengaruhi kekuatan-kekuatan yang ada di alam sekitarnya, ia dapat menguasai kekuatan-kekuatan  tersebut, karena semua itu bukanlah kekuatan-kekuatan yang pribadi. Baik atau tidaknya keadaan manusia tergantung dari bagaimana manusia menguasai kekuatan-kekuatan alam tersebut.
            Humanisme adalah paham yang menganggap manusia sebagai objek studi terpenting jadi pusat dari objek studi bukan alam, bukan Tuhan tetapi manusia. Gerakan humanism muncul ketika orang menyadari adanya ketidakseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan manusia, pada waktu itu gereja mendominasi ilmu pengetahuan. Biara adalah pusat untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Kaum terpelajar pada waktu itu: para pendeta dan biarawan hanya sibuk dengan persoalan-persoalan teologi yang rumit sehingga mereka tidak lagi memperhatikan kebutuhan sehari-hari manusia. Dalam perkembangannya selanjutnya, humanisme yang sering disebut humanisme modern tidak hanya sekedar berjuang untuk memperhatikan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani manusia, tetapi mereka pun menciptakan aagama. Prinsip ajaran humanisme modern itu adalah: menolak kepercayaan kepada Allah, percaya kepada kemampuan manusia sendiri. Manusia dijadikan sebagai ukuran untuk menilai segala sesuatu dan mereka mementingkan etika dan susila, namun meninggalkan ajaran agama.
            Dalam pandangan evolusionisme yang di dalamnya mengajarkan tentang segala bentuk kehidupan baik organism maupun social dan budaya, yang berkembang dari bentuk yang sederhana kea rah bentuk yang sempurna. Dalam pandangan evolusionisme memiliki dasar yaitu tidak ada Allah, manusia adalah binatang menyusui yang tertinggi yang cerdas sebagai kelanjutan dari makhluk sebelumnya yang sederhana dan factor seleksi alam (natural selection) sangat menentukan hidup atau matinya makhluk yang ada. Hidup harus diperjuangkan (struggle of life).
            Dalam pandangan komunisme, agama dipandang sebagai penyebab kesengsaraan. Sejalan dengan kebenciannya terhadap agama, komunisme menolak keberadaan Allah. Allah adalah khayalan dan fantasi pikiran manusia. Manusialah yang menjadikan Allah dan manusialah sebagai Allah sendiri. Manusia adalah sumber segala sesuatu itulah yang disebut atheime. Komunisme memandang materi sebagai milik bersama sebagai hal yang pokok. Segala sesuatu diukur dari masalah-masalah materi (ekonomi). Manusia dipandang sebagai benda bergerak, mempunyai arti kebersamaan dengan orang lain. Dalam kesendirian manusia tidak mempunyai arti dan itulah yang disebut dengan materialism. System ekonomi sangat menentukan kehidupan dalam masyarakat. Manusia dilihat sebagai hasil dari lingkungannya, dari system ekonomi yang berlaku. Manusia adalah homo economicus . manusia tidak bias menentukan dirinya sendiri, karena terikat oleh system ekonomi. Dosa itu tidak ada, keberadaan manusia yang buruk disebabkan oleh adanya kapitalisme. Dan hal ini dapat diperbaiki dengan melaksanakan perubahan system ekonomi yang di dalamnya diharapkan bahwa semua orang yang dapat memiliki segala sesuatu secara bersama. Hidup hanya dapat dilihat sebagai masalah perut belaka. Manusia adalah apa yang dimakannya(biologis-ekonomi).
            Menurut pandangan determinisme, manusia bergerak karena adanya kekuatan atau kuasa dari luar. Manusia tidak bias melakukan segala sesuatu sendiri, harus ada penyebabnya. Secara etimologi, determinisme berasal dari kata to determine yang artinya menetapkan, menakdirkan. Ini adalah paham yang mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi karena ada yang menyebabkannya atau menakdirkannya. Ada beberapa penyebab yang memungkinkan manusia melakukan sesuatu adalah lingkungan. Lingkungan adalah penyebab sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia. Pandangan ini didasarkan pada pokok ajaran bahwa manusia adalah tubuh jasmani yang tidak mempunyai jiwa atau roh. Peraturan-peraturan kosmos dimana manusia diatur oleh peraturan-peraturan kosmos yang ada sejak semulanya. Allah dianggap sebagai penentu (menakdirkan) segala sesuatu dalam kehidupan manusia. Manusia dianggap hanyalah boneka yang siap dan harus menerima segala sesuatu yang akan terjadi, yang baik ataupun yang buruk. Manusia tidak mempunyai hal untuk bertanya atau mengubahnya.


2.2 Manusia Menurut Gambar dan Rupa Allah
            Dalam perjanjian lama menyebut gambar dengan kata tselem yang berarti gambar, patung, model yang asli, sedangkan rupa disebut dengan kata Demuth yang berarti salinan, tembusan yang asli. Dalam perjanjian Baru menyebut gambar dengan kata eikon yang berarti bentuk asli, perwujudan yang dilukiskan yang Nampak. Dari penjelasan ini dapat diartikan bahwa pada awal penciptaan manusia, antara manusia dengan Allah ada kesamaan yaitu kesamaan ilahi. Tetapi setelah manusia jatuh ke dalam dosa maka kedudukan manusia sebagai gambar dan rupa Allah menjadi rusak.
            Kristus datang ke dalam dunia untuk memperbaiki gambar yang rusak itu. Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan Ia juga adalah manusia. Ia dating untuk melaksanakan pekerjaan penebusan, mendamaikan Allah dengan manusia. Sebagai Allah, sepenuhnya Ia mampu mendamaikan manusia dengan Allah dan pendamaian yang dilakukanNya itu sungguh-sungguh bias dirasakan manusia. Di dalam pekerjaanNya dengan manusia. Dalam hubunganNya dengan Allah, Yesus taat menjalankan perintah-perintah BapaNya untuk menytelamatkan dunia. Dalam hubunganNya dengan manusia Yesus prihatin dan mengasihi umatNya serta rela mati menebus dosa umatNya. Yesus sebagai gambar dan rupa Allah bearti: manusia dan Allah tidak dapat mepaskan diri dari hubungan satu sama lain, Kristus yang adalah Allah (anak) setia dan taat kepada BapaNya dan selalu memperhatikan umatNya manusia. Ia sebagai manusia selalu setia kepada Allah dan memperhatikan dan mengasihi sesamanya manusia. Ia hidup dalam persekutuan dengan Allah dan manusia.
            Manusia sebagai gambar dan rupa Allah berarti manusia betul-betul menyadari bahwa dirinya tidak lepas dari keterikatannya dengan Allah. Bahwa ia ditentukan untuk hidup bersama-sama dengan Allah(kel 20:1-11). Manusia ada hubungan dengan sesamanya dalam situasi saling menilong, saling memperhatikan, saling menghargai. Manusia harus saling menghormati sesamanya sebagai gambar Allah.


2.3 Manusia Adalah Makhluk Yang Terdiri Dari Tubuh dan Jiwa
       Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang terdiri dari tubuh dan jiwa yang utuh. Ketika Allah menciptakan manusia (kej 2:7), ia menghembuskan nafas kehidupan (roh dan jiwa) kepadanya, sehingga dengan terciptalah manusia yang sempurna. Ini berarti apa yang rohani tidak bias dilepaskan dari yang jasmani (psikosomatis). Dalam 1 kor 15:35 menggunakan istilah “tubuh” untuk menyebutkan manusia secara keseluruhan jasmani dan rohani. Tubuh dipakai untuk menjelaskan cara beradanya manusia. Hati dimengerti sebagai tenaga untuk memperhatikan, tempat kedudukan, maksud, sikap yang baik  maupun jahat, tempat akal budi. Dengan hatinya manusia menjadi makhluk yang berakal budi, yang memiliki pengetahuan, yang dapat dimengerti, dapat mengalami, dapat berhubungan dengan manusia sekitarnya dan menentukan sikap terhadapnya. Roh dimengerti sebagai alat untuk mengetahui tempat emosi (kej 41:8) atau untuk menghayati dunia luar dan menanggapinya, alat untuk beraksi (Rm 8:16), alat untuk beribadah (Rm 1:9) dan alat untuk bersekutu (Filipi 2:1). Dengan Roh manusia dapat menerima dan menyatakan segala macam hal yang bersifat kejiwaan dalam arti senang, sedih, girang, takut, marah, dan sebagainya.


2.4 Manusia Diciptakan Sebagai Laki-laki dan Perempuan
       Tuhan Allah berfirman: “tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia (kej 2:18)”. Diciptakannya manusia sebagai laki-laki dan perempuan, yang menunjukkan adanya dua jenis yang berbeda, bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk disatukan, untuk tujuan yang sempurna pada diri manusia baik laki-laki dan perempuan belumlah sempurna makanya harus saling melengkapi dan menyempurnakan sehingga tercipta satu kesatuan (dwi tunggal).
            Manusia diciptakan oleh Allah untuk beranak cucu dan bertambah banyak (kej 1:28). Dengan hal ini menunjukkan suatu hubungan antara manusia laki-laki dan perempuan yang di dalamnya tidak mencari kepentingan diri sendiri melainkan saling mengasihi, saling menghargai, mencari kebahagiaan bersama. Kehidupan bersama antara laki-laki dan permpuan dapat mewujudkan hidup saling menolong secara nyata dan saling melengkapi.
            Dalam kej 1:26-27 memberi kesaksian tentang tugas dan tanggung jawab manusia untuk menguasai alam. Manusia diberi tanggung jawab oleh Allah untuk mengolah, tetapi juga memelihara alam (kej 2:15). Manusia adalah kawan sekerja Allah. Artinya dalam kehidupannya manusia ikut serta dalam berkarya dan hasil pekerjaan Allah itu baik (kej 1:31). Oleh sebab itu manusia terpanggil untuk memelihara hasil karya Allah yang baik itu, bukan untuk merusaknya.
            Meskipun laki-laki dan perempuan merupakan ciptaan Allah yang diciptakan menurut gambar dan rupaNya, namun laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan baik perbedaan jasmani (biologis) maupunpsikologis. Perbedaan jasmani dapat dilihat dari bentuk alat kelamin, sedangkan perbedaan menyangkut psikologis dapat dilihat dari perasaan yang dimiliki (perempuan memiliki perasaan yang lebih dalam dan tersimpan lamadaripada laki-laki), perbedaan pikiran (perempuan cenderung berpikir emosional sedangkan laki-laki berpikir rasional), perbedaan penekanan (laki-laki berperan sebagai pekerja <kej 3:17-19> sehingga bersifat pembuat, sedangkan wanita mempunyai peran sebagai ibu <kej 3:20> sehingga bersifat memelihara) dan perbedaan rangsangan seksual (laki-laki terangsang pada hal-hal lahiriah yang Nampak dari luar, sedangkan perempuan lebih terangsang pada hal-hal batiniah. Rangsangan seksual laki-laki munculnya bias tiba-tiba, dalam keadaan yang tinggi, tetapi akan cepat mereda. Pada wanita, rangsangan seksualnya lebih perlahan dan lebih lama redanya).


2.5 Manusia Sebagai Mandataris Allah
            Pada saat Allah menciptakan manusia, Ia memberikan tugas dan tanggung jawab kepada manusia untuk memperbanyak keturunan, memenuhi bumi dan menaklukannnya, berkuasa atas ikan-ikan, burung-burung dan atas segala binatang merayap. Tugas dan tanggung jawab tersebut merupakan membedakan manusia dari segala makhluk ciptaan Allah lainnya. Tugas dan tanggung jawab itu merupakan anugerah Allah bagi manusia, bahwa manusia diperkenankan memperbanyak keturunan, memenuhi bumi, mengelola bumi demi kepentingannya dan memiliki otoritas atas segal binatang di air, udara, dan daratan. Allah meletakkan segala-galanya di bawah kaki manusia, dan manusia berkuasa atas segala ciptaan tangan Allah (Maz 8:7). Itulah kemuliaan yang dianugerahkan kepada manusia bahwa manusia merupakan mahkota dari ciptaan Allah. Manusia menjadi mandataris Allah, dalam hubungan khusus dengan Allah. Tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada manusia itu bermaksud mendorong manusia mengambil prakarsa dan berkarya dengan kepentingan sendiri dan kepentingan makhluk-makhluk yang lain. Ini adalah tugaas suci yang diberikan kepada manusia. Dengan melaksanakan tugas tersebut berarti memuliakan Allah pencipta langit dan bumi.







BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
v  Menurut kesaksia Alkitab manusia diciptakan oleh Allah serupa dan segambar dengan Allah (imago Dei). Manusia adalah mahkota ciptaan Tuhan, karena manusia adalah makhluk yang termulia.
v  Manusia adalah makhluk social yang menunjuk kepada kecenderungan manusia untuk berorientasi terhadap sesame manusia.
v  Manusia adalah makhluk etis yang mempunyai potensi dan kapasitaas untuk mempertanyakan dan membedakan apa yang baik dan sebaliknya.
v  Manusia adalah orang berdosa yang membutuhkan pemulihan melalui penyelamatan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus.

Akhir kata “tiada gading yang tak retak”, demikian pula dengan makalah ini, masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun tetap kami nantikan untuk kesempurnaan makalah ini.














DAFTAR PUSTAKA

Alkitab
Pdt. S. A. L. Tombeg STh. MTeol, Pdt. T. D. Wua STh. 2008. Pendidika Agama Kristen, Depdiknas UNIMA


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar